Jumat, 12 Juni 2009

ARTIKEL (1): Pasang Iklan Via Agency Lebih Murah ?

PASANG IKLAN via AGENCY LEBIH MURAH ?

PERTANYAAN yang sering ditemui dikalangan pengiklan baru. Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Bingung?

Oke, biar nggak bingung baca tulisan ini sambil ngelus-elus tengkuk. Disini saya akan membuat pertanyaan yang kemudian akan saya jawab sendiri. Kenapa ongkos beriklan menggunakan ukuran 'murah' dan 'mahal'? Kan, seharusnya biaya iklan atau promosi masuk dalam elemen 'investasi' yang hasilnya masih akan dinikmati 'nanti'? Sejujurnya saya katakan, tradisi beriklan bagi pengguna jasa iklan dilingkungan saya memasukkan ukuran biaya iklan sebagai elemen 'pengeluaran'. Mau tak mau, pertanyaan yang muncul adalah berapa keuntungan yang akan diperoleh setelah mengeluarkan ongkos iklan yang mencapai jutaan rupiah? Nah, lo...

Ukuran 'murah' dan 'mahal' dalam beriklan sangat bias. Dengan format dan ukuran yang sama, mungkin biaya iklan Rp.750.000 bisa dikata sangat murah dibanding Rp.4.500.000. Sebaliknya, iklan yang harganya Rp. 4.500.000 bisa dibilang murah jika efek keuntungan yang didapat bisa berlipat-lipat. Ini kalau ngomongin masalah 'murah' dan 'mahal' ketika berhadapan dengan pedagang. Bagaimana bisa? Efek iklan kan unpredictable? Gak bisa dikira-kira? Para pedagang lah yang bisa menjawab (saya tidak mau menjawab karena saya bukan pedagang he he he...).

Kembali ke pertanyaan judul, apa benar lebih murah via Agency? Kenapa bisa iya dan bisa tidak? Menjawab pertanyaan ini gampang-gampang susah, gampang karena tinggal mengetik, susah karena ada perasaan 'pekewuh' sama pengelola media. Tetapi sekali lagi, saya akan jujur dan serius.
Bagi pengelola media masa seperti koran dan TV, agency atau biro iklan merupakan rekanan yang perlu dihargai dengan pemberian harga atau diskon khusus yang nilainya sangat signifikan dibanding customer langsung. Terutama bagi media yang memiliki banyak masa penikmat (pembaca atau pemirsa) atau media yang manajemennya sudah 'mapan', pemasar iklan jarang terjun langsung mencari customer, tetapi lebih banyak membina dan mensuport agency. Karena apa? Mengurus tetek-bengek calon customer tidak semudah yang dibayangkan. Tinggal menulis teks atau copywriternya, menambah sedikit gambar atau visual dan menumpahkan pada sebuah desain maka jadilah. Tidak semudah itu ! Mengkreasikan iklan hingga mencapai 'bentuk' yang 'pas' membutuhkan proses pergulatan kreatif yang panjang sampai beradu argumen di atas meja tim creative. Yang jelas, saya tidak akan membahas proses pembuatan desain iklan ini sampai berkepanjangan. Karena proses ini bisa menjadi tulisan tersendiri.

Nah, lagi-lagi harus kembali ke fokus berbahasan. Satu pertanyaan secara tidak sengaja sudah terjawab, karena agency mendapat perlakuan harga khusus dari media. Ditambah lagi dengan sengitnya persaingan antar agency, tak jarang mereka dengan gagah berani sampai 'memiringkan' tarif iklan hingga 'tiarap' demi mendapatkan customer. Dan tentunya, customer lagi-lagi mendapatkan kemurahan agency dengan mendapatkan layanan istimewa dengan menyuguhkan orang-orang terbaiknya untuk mengkreasikan bentuk iklan dan promosi dengan segala kemampuannya sehingga mampu menggerakkan calon konsumen 'mencicipi' produk yang diiklankan. Sebenarnya (ini sungguh jarang disadari oleh calon pengiklan), seorang pemasar iklan membawa bekal banyak informasi tentang perihal bagaimana menjadikan iklan lebih efektif dan efisien (lagi-lagi ini tidak akan saya bahas lebih jauh karena bisa jadi bahasan yang menarik), mangkanya dia tidak mau disebut 'sales' atau 'marketing iklan'. Namun, hal ini kurang dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, pengiklan yang berkuasa karena yang membayar tidak memaksimalkan potensi ini? Keenakan dong pemasar iklan dan agency nya. Jelas lah!! Kenapa? (Lain kali aja jawabnya he he he...). Terang sudah beriklan via agency lebih murah!!

Sebaliknya, tak jarang pengiklan mendapat harga yang lebih murah ketika langsung order ke media. Kenapa bisa terjadi? Ini bagian yang membuat saya 'pekewuh' sama pengelola media ketika harus menjawabnya. Bismillah... Biasanya, media yang memberi 'harga murah' kepada pemasang langsung ini kebanyakan media yang menejemennya 'amburadul' dan kurang peminat, sehingga berefek pada pemasarnya. Tak jarang pemasar iklan media tersebut 'menyalip' agency dengan 'menggoyang harga' yang penting akhir bulan tidak 'keblongan'. Denga pola seperti ini, jelas pengiklan mendapat harga 'lebih murah' jika dibandingkan via agency. Tapi apa ruginya? Coba saja sendiri beriklan di media yang kurang penikmat? Saya kira nggak usah tanya, sudah jelas jawabannya. Alhamdullillah, akhirnya tega juga.

Saya menuangkan tulisan ini bukan berdasar teori, tapi merupakan pengalaman ngurusin pengiklan dilingkungan saya yang telah membuat saya belajar berdiri, terjungkal, terjerembab, kemudian mencoba mendiri lagi untuk kemudian berlari. Akhir ketikan, Wassalamu'alaikum dan SALAM KREATIF !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar