Minggu, 21 Juni 2009

ARTIKEL (5): Manfaatkan Momentum

MEMANFAATKAN MOMENTUM

SELAIN mengenal musim kemarau dan musim penghujan, di Jogja juga mengenal musim beriklan. Masak sih?
Pada saat-saat tertentu, para pedagang dan pengusaha ramai-ramai melakukan promosi. Musim-musim yang terkenal tersebut antara lain musim pendidikan yang biasanya terjadi pada bulan Juni s/d Agustus, kemudian pada bulan Ramadhan, dan menjelang tahun baru antara bulan Desember s/d Januari. Diketiga musim inilah para pedagang dan pengusaha 'tancap gas' melakukan promosi untuk mendatangkan 'pembeli' sebanyak-banyaknya.

Yang khas dari terjadinya musim tersebut adalah terlibatnya pengiklan dari unit-unit usaha yang berhubungan dengan momenum. Musim Pendidikan, pengiklan yang banyak terlibat adalah iklan penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Swasta (di Jogja ada ratusan jumlahnya). Toko sepatu, tas dan perlengkapan sekolah. Dan, iklan pengembang perumahan yang mebidik orangtua mahasiswa baru dari luar Jogja untuk melakukan investasi, dari pada anaknya kost atau kontrak rumah. Di bulan Ramadhan, pengusaha dan pedagang yang banyak melakukan iklan adalah mereka yang mengelola rumah makan atau cafe, toko barang elektronik, gerai baju muslim dan biro perjalanan. Kemudian, pada menjelang tahun baru hampir semua pedagang menggelar diskon besar dengan embel-embel program penjualan yang dahsyat pula. Apakah ketiga musim beriklan tersebut memang benar-benar efektif untuk beriklan? Bisa jadi! Karena saya jarang sekali bicara serius masalah ini dengan para pengelola usaha yang terlibat langsung.

Tetapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya bicarakan kali ini. Memanfaatkan momentum yang saya maksud adalah kapan waktu yang tepat untuk menggeber iklan, kapan untuk 'nyantai' beriklan, dan bagaimana beriklan pada waktu-waktu tertentu. Apalagi ini?? Saya memang ingin membuat anda bingung, soalnya seringkali saya juga bingung dengan pola beriklan yang sering saya jumpai. Intinya, beriklan itu juga harus 'angon wayah'.
Contohnya? Misal bagi pedagang handphone, menjelang tanggal tua jangan menggeber iklan jualan tetapi beriklanlah membeli handpone karena pada saat-saat seperti itu para mahasiswa sangunya sudah menipis atau bisa jadi sudah habis, harapan satu-satunya adalah menjual handphone untuk menyambung hidup. Iklan membeli handphone ini juga efektif diterapkan ketika musim liburan tiba dimana mahasiswa ramai-ramai butuh uang untuk sangu pulang kampung. Tentu saja hal seperti ini akan berlaku berbeda tiap usaha. Coba saja kalau tidak percaya. Kan tidak semuanya bokek? Terserah, kalau gak percaya akan rugi sendiri he he he...

Sesederhana itukah menentukan pola beriklan? Ya!! Kenapa harus pusing-pusing dipersulit kalau bisa dipikir mudah? Lantas apa lagi? Mencobalah berbeda dengan iklan kompetitor ketika sama-sama memasang iklan dihari yang 'dikeramatkan', biasanya hari Senin, Kamis dan Sabtu yang sepertinya sudah terjadi 'konsensus' antara pengiklan dan pembaca iklan. Sebagai pengiklan aktif tentunya pedagang sudah mengerti kebiasaan kompetitornya. Jika terjadi perang harga dan anda merasa tidak mungkin menang dengan kompetitor, saya sarankan ambil satu atau beberapa barang untuk 'dikorbankan'. Tonjolkan produk tersebut dalam iklan dengan harga 'kulakan', niscaya akan mendatangkan banyak calon pembeli. Nah, pada saat toko kebanjiran calon pembeli, kreativitas anda sebagai pedagang diuji. Tonjolkan kelemahan 'produk murah' tersebut, untuk kemudian anda mengarahkan calon konsumen dengan produk yang lebih berkualitas tentunya dengan harga standard. Jika momentum ini dapat dijalankan dengan mulus, niscaya akan menangguk untung. Licik!! Nggak juga. Toh ada barang yang diiklankan. Tinggal bagaimana pandai-pandainya 'mengolah' calon konsumen. Yang penting tujuan iklan untuk mendatangkan calon pembeli sudah berjalan dengan sukses. Tinggal bagaimana memanfaatkan momentum yang sudah di depan mata.

Banyak sebenarnya momentum-momentum yang bisa diciptakan sendiri. Tergantung bagaimana melakukan inovasi dalam strategi promosi, dimana calon konsumen disuguhkan sugesti bahwa saat itu mereka benar-benar membutuhkan barang atau jasa yang anda butuhkan. Kalau saya membeberkan dan mengasih contoh terlalu banyak nanti malah membosankan dan berkesan menggurui.

Maka itu, saya sarankan jangan memilih biro iklan secara asal dengan menawarkan harga paling murah. Yang paling penting adalah bagaimana biro iklan tersebut mampu mengkreasikan kebutuhan anda sebagai pengiklan dengan ide-ide yang inovatif. Saya hanya memberi saran, tapi semua itu terserah pilihan anda sebagai pengiklan. Salam CREATIVE!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar