SIAPA PEMASAR IKLAN?
PEMASAR iklan 'sebenarnya' memiliki peran yang berbeda dibanding pemasar-pemasar yang lain terhadap klien atau customernya. Selama ini, pemasar iklan enggan disebut sales atau marketing. Kenapa? Karena, pada dasarnya pemasar iklan memang bukan sekedar 'jualan' iklan. Dia lebih berpern sebagai konsultan promosi atau dikalangan mereka biasa menyebut diri Account Executive (AE). Sebuah jabatan yang terlihat keren? Tentu saja.
Lantas bekal apa yang harus dipunyai oleh seorang AE? Seorang AE harus memiliki pengetahuan tentang media promosi dengan segala kelebihannya. Selain itu, dia juga harus mecari tahu secara detail usaha atau produk yang dihasilkan klien. Untuk apa? Pengetahuan ini lah yang nantinya akan digunakan sebagai titik tolak dalam menentukan strategi promosi agar tepat sasaran, lebih efektif menjangkau pasar serta efisien dalam keuangannya.
Seperti yang sudah dibahas pada tulisan terahulu (baca: PASANG IKLAN via AGENCY LEBIH MURAH ?) biaya iklan merupakan salah satu komponen investasi. Tetapi karena kepentingan pemasang iklan yang seringkali memasukkan dalam komponen biaya pengeluaran, apakah pengetahuan-pengetahuan tentang produk, usaha dan ragam media promosi masih diperlukan? Jawabannya Ya! Bukankah biasanya klien sudah menetukan sendiri medianya, kadang sudah bikin 'copywrite'nya, tinggal dibuatkan desain dan tawar-menawar harga? He he he... Kebiasaan beriklan di lingkungan saya memang begitu pragmatis. Karena awal persepsi yang salah, langkah selanjutnya pun asal-asalan. Ya, nggak apa-apa lah yang penting masih ada untungnya, begitu kira-kira pola pikirnya.
Kebiasaan AE dilingkungan saya dalam menawarkan 'barang dagangannya' biasanya dikemas dalam satu paket penawaran lengkap. All in One. Misalnya, tarif media printing, tarif iklan koran, spanduk dll tanpa disertakan keterangan tentang kelebihan dan kekurangan dari media-media promo tersebut. Klien dibiarkan 'sok tahu' akan kebutuhannya. Penawaran seperti ini memang mengesankan, klien tinggal mentukan pilihan sesuai dengan bajet yang tersedia. Mangkanya tidak salah apabila klien beranggapan kalau AE tak ubahnya seperti sales-sales yang lain, sales sandal jepit misalnya. Lantas apakah itu salah? Salah sih tidak, hanya saja jika hubungan antara klien dan AE cuma sebatas itu, tentunya akan sangat rentan terhadap 'penyerobotan' klien, yang mana klien akan mencari harga termurah. Ujung-ujungnya, AE yang kehilangan klien akan menuduh AE yang lain telah menyerobot kliennya. Bisa jadi dicegat di tengah jalan ha ha ha...
AE adalah pemberi solusi bagi klien yang hendak berpromosi. Maka itu, dia harusnya tahu 'kebutuhan' klien melalui jurus-jurus investigasi layaknya seorang wartawan mengorek berita. Hasil investigasi ini lah yang nantinya akan sangat berguna bagi strategi media dan digunakan tim creative dalam menentukan visualnya. Kompetitor, kelemahan dan kelebihan usaha atau produk harusnya diinventarisir secara detail, untuk mengetathui target pasar. Termasuk juga tempat usaha, harga, kemasan hendaknya dikupas dan dievaluasi untuk menempatkan produk/usaha secara benar di tengah-tengah calon konsumennya.
Nah, setelah itu diketahui semua seluk-beluknya barulah menentukan media promosi apa yang sesuai untuk produk atau usaha tersebut. Belum lagi yang menyangkut masalah orientasi promosi jangka pendek yang ingin dicapai, jangka menengah dan jangka panjang untuk dapat menentukan intensitas promosinya. Kemudian, perkembangan pola hidup dan kebiasaan masyarakat serta teknologi yang semakin canggih harus terus dipelajari untuk mengevaluasi efektif tidaknya promosi yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Susahkan jadi AE? Emang...
Tapi, ketika klien merasa puas sesuai dengah yang diharapkan tentunya dia akan menjadi klien yang loyal, efeknya 'harga' bukan lagi menjadi ukuran utama. Side efeknya, bingkisan akan selalu hadir di rumah AE ketika ada perayaan hari-hari tertentu, undangan kongkow-kongkow di cafe dan sejenisnya akan didapat he he he.. ngarep dech !
Mangkanya kalau mau menyandang 'gelar' AE harusnya mau belajar tentang semua itu, kalau tidak ya puas-puasin aja jadi 'sales' yang akhirnya cuma akan dapat capek karena untungnya semakin tipis.
PEMASAR iklan 'sebenarnya' memiliki peran yang berbeda dibanding pemasar-pemasar yang lain terhadap klien atau customernya. Selama ini, pemasar iklan enggan disebut sales atau marketing. Kenapa? Karena, pada dasarnya pemasar iklan memang bukan sekedar 'jualan' iklan. Dia lebih berpern sebagai konsultan promosi atau dikalangan mereka biasa menyebut diri Account Executive (AE). Sebuah jabatan yang terlihat keren? Tentu saja.
Lantas bekal apa yang harus dipunyai oleh seorang AE? Seorang AE harus memiliki pengetahuan tentang media promosi dengan segala kelebihannya. Selain itu, dia juga harus mecari tahu secara detail usaha atau produk yang dihasilkan klien. Untuk apa? Pengetahuan ini lah yang nantinya akan digunakan sebagai titik tolak dalam menentukan strategi promosi agar tepat sasaran, lebih efektif menjangkau pasar serta efisien dalam keuangannya.
Seperti yang sudah dibahas pada tulisan terahulu (baca: PASANG IKLAN via AGENCY LEBIH MURAH ?) biaya iklan merupakan salah satu komponen investasi. Tetapi karena kepentingan pemasang iklan yang seringkali memasukkan dalam komponen biaya pengeluaran, apakah pengetahuan-pengetahuan tentang produk, usaha dan ragam media promosi masih diperlukan? Jawabannya Ya! Bukankah biasanya klien sudah menetukan sendiri medianya, kadang sudah bikin 'copywrite'nya, tinggal dibuatkan desain dan tawar-menawar harga? He he he... Kebiasaan beriklan di lingkungan saya memang begitu pragmatis. Karena awal persepsi yang salah, langkah selanjutnya pun asal-asalan. Ya, nggak apa-apa lah yang penting masih ada untungnya, begitu kira-kira pola pikirnya.
Kebiasaan AE dilingkungan saya dalam menawarkan 'barang dagangannya' biasanya dikemas dalam satu paket penawaran lengkap. All in One. Misalnya, tarif media printing, tarif iklan koran, spanduk dll tanpa disertakan keterangan tentang kelebihan dan kekurangan dari media-media promo tersebut. Klien dibiarkan 'sok tahu' akan kebutuhannya. Penawaran seperti ini memang mengesankan, klien tinggal mentukan pilihan sesuai dengan bajet yang tersedia. Mangkanya tidak salah apabila klien beranggapan kalau AE tak ubahnya seperti sales-sales yang lain, sales sandal jepit misalnya. Lantas apakah itu salah? Salah sih tidak, hanya saja jika hubungan antara klien dan AE cuma sebatas itu, tentunya akan sangat rentan terhadap 'penyerobotan' klien, yang mana klien akan mencari harga termurah. Ujung-ujungnya, AE yang kehilangan klien akan menuduh AE yang lain telah menyerobot kliennya. Bisa jadi dicegat di tengah jalan ha ha ha...
AE adalah pemberi solusi bagi klien yang hendak berpromosi. Maka itu, dia harusnya tahu 'kebutuhan' klien melalui jurus-jurus investigasi layaknya seorang wartawan mengorek berita. Hasil investigasi ini lah yang nantinya akan sangat berguna bagi strategi media dan digunakan tim creative dalam menentukan visualnya. Kompetitor, kelemahan dan kelebihan usaha atau produk harusnya diinventarisir secara detail, untuk mengetathui target pasar. Termasuk juga tempat usaha, harga, kemasan hendaknya dikupas dan dievaluasi untuk menempatkan produk/usaha secara benar di tengah-tengah calon konsumennya.
Nah, setelah itu diketahui semua seluk-beluknya barulah menentukan media promosi apa yang sesuai untuk produk atau usaha tersebut. Belum lagi yang menyangkut masalah orientasi promosi jangka pendek yang ingin dicapai, jangka menengah dan jangka panjang untuk dapat menentukan intensitas promosinya. Kemudian, perkembangan pola hidup dan kebiasaan masyarakat serta teknologi yang semakin canggih harus terus dipelajari untuk mengevaluasi efektif tidaknya promosi yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Susahkan jadi AE? Emang...
Tapi, ketika klien merasa puas sesuai dengah yang diharapkan tentunya dia akan menjadi klien yang loyal, efeknya 'harga' bukan lagi menjadi ukuran utama. Side efeknya, bingkisan akan selalu hadir di rumah AE ketika ada perayaan hari-hari tertentu, undangan kongkow-kongkow di cafe dan sejenisnya akan didapat he he he.. ngarep dech !
Mangkanya kalau mau menyandang 'gelar' AE harusnya mau belajar tentang semua itu, kalau tidak ya puas-puasin aja jadi 'sales' yang akhirnya cuma akan dapat capek karena untungnya semakin tipis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar